MAKALAH
MENGKONSTRUKSI PARADIGMA DAN TUJUAN PEMBELAJARAN
DI AJUKAN UNTUK MEMENUHI SUATU
MATA KULIYAH
STRATEGI PEMBELAJARAN
Oleh :
SUBANDI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
RADEN QOSIM SUNAN DRAJAT
BANJARANYAR PACIRAN LAMONGAN
2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur
kami panjatkan kehadirat Allah Swt atas rahmat dan karunia-Nya saya dapat
menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah yang berjudul Ejaan Yang
Disempurnakan ini membahas mengenai seperangkat aturan tentang cara menuliskan
bahasa dengan huruf, kata dan tanda baca sebagai sarananya.
Dalam
penulisan makalah ini saya banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak. Oleh
karena itu, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
penulisan makalah ini.
Saya sadar
bahwa dalam makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, Hal itu di karenakan
keterbatasan kemampuan dan pengetahuan saya. Oleh karena itu, saya sangat
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi kita.
Akhir kata,
saya memohon maaf apabila dalam penulisan makalah ini terdapat banyak kesalahan
Lamongan, 07 Juni 2013
Penulis
DAFTAR
ISI
Kata pengantar
Daftar isi
BAB I PENDAHULUAN
1.1
Latar
belakang
1.2
Rumusan
Masalah
1.3
Tujuan
Penulis
1.4
Manfaat
Penulis
BAB II PEMBAHASAN
2.1
Siswa
Sebagai Pusat Pembelajaran
2.2
Kecerdasan
Ganda Dan Optimalisasi Fungsi Otak
2.3
Mengatasi
Masalah Disiplin
BAB III PENUTUP
3.1
Simpulan
3.2
Saran
DAFTAR PUSTAKA
a.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sekarang bukan jamannya lagi menganggap siswa sebagai
‘kertas putih kosong’ yang tidak tahu apa-apa sama sekali. Siswa yang hanya
direcoki dengan apa yang diketahui gurunya hanya akan membentuk individu yang
pasif. Pembelajaran tidak relevan lagi dianggap hanya sekedar sebagai proses
transfer pengetahuan. Pembelajaran pada esensinya merupakan sutau proses
konstruksi pengetahuan. Cara pandang seperti inilah yang disebut dengan konstruktivisme.
Siswa hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek
fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh
pertanyaan rangsangan dari guru. Sedangkan, guru hendaknya banyak memberikan
stimulus kepada siswa agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif,
mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.
Konstruktivisme memandang belajar sebagai proses
dimana pebelajar secara aktif mengkonstruksi atau membangun gagasan-gagasan
atau konsep-konsep baru didasarkan atas pengetahuan yang dimiliki sebelumnya
atau pada saat itu. Belajar melibatkan konstruksi pengetahuan seseorang dari
pengalamannya sendiri oleh dirinya sendiri. Dalam perkembangannya paham
konstruktivisme telah memberikan pengaruh besar terhadap pendidikan, terutama
pendidikan di Indonesia. Kegiatan pembelajaran yang sering kita istilahkan
dengan student centered berawal dari paham ini.
Munculnya berbagai jenis konstruktivisme dari berbagai
tokoh mengakibatkan perubahan makna konstruktivisme dari yang sebenarnya.
Kenyataan ini membuat beberapa penganut konstruktivisme prihatin dan kemudian
mengemukakan pandangan-pandangan mereka terhadap esensi konstrutivisme.
Terdapat empat varians konstruktivisme dari beberapa tokoh yang benar-benar
memahami dan sejalan dengan paham akan sejatinya konstruktivisme tersebut.
Keempat varians itu adalah konstruktivisme radikal, biologi kognitif,neurophysiology,
dan cybernetic. Dalam makalah ini akan dibahas paham
konstruktivisme biologi kognitif yang dikemukakan oleh Maturana dan Varela.
Mereka melihat konstruktivisme dari sudut pandang penelitian modern di bidang
biologi dan fisiologi, dan bukan berdasarkan tradisi filosofis.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan
uraian latar belakang yang telah dikemukakan, maka dapat diajukan rumusan
masalah sebagai berikut.
1)
Bagaimanakah paradigma paham konstruktivisme terhadap pembelajaran?
2)
Bagaimanakah paham konstruktivisme dalam
Pendidikan
1.3 Tujuan
Penulisan
Adapun
tujuan yang ingin dicapai melalui penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1) Untuk
mengetahui paradigma paham konstruktivisme terhadap terhadap pembelajaran.
1.4 Manfaat
Penulisan
Adapun
manfaat yang diharapkan melalui penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1) Bagi
Penulis
Penulis
dapat menambah wawasan tentang paham konstruktivisme berdasarkan biologi
kognitif, terutama dalam hal pendidikan dan pembelajaran, dengan harapan dapat
dijadikan acuan dalam melaksanakan pembelajaran yang lebih baik.
2) Bagi
Pembaca
Pembaca
dapat menambah wawasan tentang paham konstruktivisme berdasarkan biologi
kognitif, terutama dalam hal pendidikan dan pembelajaran, sehingga dapat
dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan proses pembelajaran di
kelas maupun pada penyelenggaraan pendidikan pada umumnya.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Paradigma Paham
Konstruktivisme terhadap Pembelajaran
Gagasan pokok konstruktivisme sebenarnya dicetuskan
oleh Giambatissta Vico. Vico adalah cikal bakal dari konstruktivisme. Vico
dalam De Antiquissima Italorum Sapientia yang dipublikasikan
pada tahun 1710 mengungkapkan bahwa “Tuhan adalah pencipta alam semesta dan
manusia adalah tuan dari ciptaan”. Vico juga menjelaskan bahwa “mengetahui”
berarti “mengetahui bagaimana membuat sesuatu”. Hal ini berarti bahwa seseorang
baru mengetahui sesuatu jika dapat menjelaskan unsur-unsur yang membangun
sesuatu itu. Menurut Vico, pengetahuan merupakan struktur konsep dari pengamat
yang berlaku dan selalu menunjuk pada struktur konsep yang dibentuk.
Gagasan Vico kemudian disusul gagasan yang dinyatakan
oleh Jean Piaget. Piaget menuliskan gagasan konstruktivisme dalam perkembangan
kognitif dan juga dalam epistemologi genetik. Piaget menjelaskan mengenai teori
adaptasi kognitif bahwa pengetahuan diperoleh berdasarkan adaptasi struktur
kognitif terhadap lingkungan, seperti suatu organisme harus beradaptasi dengan
habitatnya untuk dapat mempertahankan kehidupan.
Konstruktivisme memandang belajar sebagai proses
dimana pebelajar secara aktif mengonstruksi atau membangun gagasan-gagasan
atau konsep-konsep baru didasarkan atas pengetahuan yang telah dimiliki di masa
lalu atau yang ada pada saat itu. Dengan kata lain, belajar melibatkan
konstruksi pengetahuan seseorang berdasarkan pengalamannya sendiri.
Konstruktivisme memandang pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari
seseorang kepada orang lain, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh
masing-masing orang. Setiap orang harus mengonstruksi pengetahuan sendiri.
Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, tetapi suatu proses yang berkembang
terus menerus.
Pembelajaran menurut konstruktivisme merupakan suatu
kondisi dimana guru membantu siswa untuk membangun pengetahuan dengan kemampuan
sendiri melalui konsep internalisasi sehingga pengetahuan itu dapat
terkonstruksi kembali. Menurut pandangan konstruktivisme, belajar merupakan
suatu proses pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan oleh si
pebelajar. Pebelajar harus aktif melakukan kegiatan, aktif berpikir, menyusun
konsep, dan memberi makna tentang hal-hal yang dipelajari.
Paradigma konstruktivisme memandang siswa sebagai
pribadi yang sudah memiliki kemampuan awal sebelum mempelajari sesuatu.
Kemampuan awal tersebut akan menjadi dasar dalam mengonstruksi pengetahuan
baru. Dalam belajar, guru berperan sebagai fasilitator untuk membantu agar
proses pengonstruksian pengetahuan oleh siswa berjalan lancar. Guru tidak
mentransfer pengetahuan yang telah dimilikinya kepada siswa, melainkan hanya
membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Guru dituntut untuk lebih
memahami jalan pikiran atau cara pandang siswa dalam belajar. Guru tidak dapat
mengklaim bahwa satu-satunya cara yang tepat adalah cara yang sama dan sesuai
dengan kemauannya.
2.2 Konstruktivisme dalam Pendidikan
Paradigma pembelajaran dengan gagasan tentang
komunitas belajar (learning community) melihat peran penting konteks dalam
pembelajaran. Menurut paradigma ini, pembelajaran terutama
merupakan suatu usaha sosial dan tergantung pada konteks. Pembelajaran
dilihat berkembang secara berbeda dalam tatanan yang berbeda dan dengan orang
yang berbeda. Dalam pandangan ini, pembelajaran koperatif (cooperative
learning), kurikulum yang terintegrasi, proyek-proyek komunitas dan unit-unit
siswa dan guru yang lebih kecil muncul.
Paradigma ini dipengaruhi oleh
konstruktivisme. Gagasan konstruktivisme dapat dilihat dari pandangan
Marry Catherine Bateson yang menunjukkan bahwa manusia mengkonstruksi
makna seperti laba-laba membuat jaringannya. Pembuatan makna merupakan
suatu proses yang aktif di dalam otak manusia di mana jaringan kompleks
yang menghubungkan gagasan yang satu dengan gagasan yang lain dikonstruksi
dengan baik. Pemahaman tentang pembelajaran sebagai pembuatan makna dan
bersifat relasional menjadi dasar pembelajaran konstruktivis.
Teori konstruktivis menyadari
bahwa pembelajar masuk ke dalam sebuah pengalaman dengan sejarah, pengalaman,
persepsi dan keyakinannya sendiri. Hal ini menimbulkan suatu interpretasi yang
unik atas dunia. Pandangan pembelajaran konstruktivis seperti ini melihat fungsi
mengajar sebagai fungsi untuk memediasi, dan menghubungkan
pengalaman-pengalaman yang baru dengan persepsi seseorang
sebelumnya.
Pandangan konstruktivis ini dikembangkan
oleh Piaget yang melihat bahwa seorang pembelajar menghadapi pengalaman
dan peristiwa-peristiwa yang baru dan ingin mengasimilasikannya ke dalam
struktur kognitif yang ada. Piaget melihat seorang anak melangkah melalui
tahapan-tahapan perkembangan sebagai seorang ilmuwan yang aktif yang
berinteraksi dengan lingkungannya dan mengkonstruksikan teori tentang
lingkungan mereka, merefleksikan dan berjuang dengan ketidakseimbangan
dan menciptakan cara berpikir yang baru.
Pandangan Piaget mendapat dimensi baru
dalam karya Jerome Bruner. Dia menekankan peran interaksi sosial, sejarah
dan bahasa dalam proses pembelajaran. Pandangan yang hampir sama diungkapkan
oleh Lev Vygotsky. Menurutnya, manusia mengkonstruksi makna dan
pengetahuan bersama-sama dalam konteks kultur dan sejarah mereka. Pembelajar
saling berinteraksi dalam situasi belajar bersama (cooperative learning),
secara terus menerus menerima umpan balik informal atas pikiran
mereka dan dirangsang oleh perspektif orang lain dan mendengar interpretasi
yang bertentangan dengan suatu ide tertentu. Ketika pembelajar membangun
pengertian atas apa yang mereka alami, hal itu disaring melalui
norma-norma kultural dan pengalaman historis yang mempengaruhi kesimpulan mereka.
Masing-masing interaksi seperti kelompok ide yang berbentuk spiral menantang
dan membentuk pemikiran mereka selanjutnya. Vygotsky melihat bahwa
pembelajaran tampak pertama-tama dalam level sosial dan kemudian pada
level individual.
Ciri Pembelajaran Konstruktivisme
Good & Brophy (dalam Kauchack & Eggen,
1998:185) menyebutkan ciri pembelajaran konstruktivisme secara umum sebagai
berikut.
1. Siswa membangun sendiri pemahamannya
2. Belajar yang baru bergantung pada pemahaman sebelumnya
3. Belajar difasilitasi oleh interaksi sosial
4. Belajar yang bermakna terjadi didalam tugas-tugas
belajar mandiri
Alexander & Murphy (dalam Kauchack, 1998:9)
mengajukan 5 pertanyaan umum tentang belajar dan mengajar yang sejalan dengan
pendapat Good & Grophy, yaitu:
1. Pengetahuan awal siswa mempengaruhi belajarnya
2. Siswa perlu memikirkan strategi belajarnya
3. Motivasi berpengaruh kuat pada belajar
4. Perkembangan dan perbedaan individual mempengaruhi
belajar
5. Kontek sosial di dalam kelas mempengaruhi belajar
Kauchack & Eggen (1998:192-193) mengemukakan bahwa
pembelajaran untuk memfasilitasi konstruksi pengetahuan memuat 4 aspek penting
sebagai berikut.
1. Pembelajaran berfokus pada penjelasan dan jawaban
siswa atas masalah atau pertanyaan.
2. Penjelasan dan jawaban datang dari siswa
3. Penjelasan dan jawaban bersumber dari representasi
konsep
4. Guru membantu siswa mengkonstruk pengetahuan dengan
mengarahkan interaksi sosial dan menyediakan representasi konsep.
Dengan demikian, esensi pembelajaran dalam pandangan
konstruktivisme adalah tidak terlepas dari belajar aktif dengan tujuan akhir
yang bermuara pada pemecahan masalah, atau dapat dikatakan bahwa pembelajaran
dalam pandangan konstruktivisme adalah pemecahan masalah; bukan hanya pemecahan
masalah bagi siswa, tetapi juga memecahkan masalah guru.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Berdasarkan
pembahasan yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan beberapa
hal sebagai berikut.
1 Konstruktivisme memandang belajar sebagai proses
dimana pebelajar secara aktif mengonstruksi atau membangun
gagasan-gagasan atau konsep-konsep baru didasarkan atas pengetahuan yang telah
dimiliki di masa lalu atau yang ada pada saat itu. Dengan kata lain, belajar
melibatkan konstruksi pengetahuan seseorang berdasarkan pengalamannya sendiri.
2 Konstruktivisme
memandang kecerdasan ganda dan optimalisasi
fungsi otak
sebagai
individu yang bersifat otonom yang mahluk hidup yang mampu meregulasi dirinya
tanpa ada campur tangan dari orang lain.
3 Pembelajaran menurut pandangan konstruktivis Mengatasi Masalah Disiplin
adalah suatu proses pembentukan pengetahuan
melalui pengalaman-pengalaman yang diperoleh siswa selama kegiatan pembelajaran
berlangsung karena siswa dalam proses pembelajaran bersifatautonom yang
tidak dapat diatur atau dikendalikan oleh guru. Dalam proses pembelajaran guru
berperan sebagai fasilitator yang dapat membantu dan mengarahkan siswa dalam
mengkonstruksi pengetahuannya sehingga kegiatan pembelajaran berlangsung secara
efektif dan menjadi pembelajaran bermakna.
3.2 Saran
Siswa sebagai individu yang bersifat tertutup, autonom,
dan self-regulated tidak dapat diatur atau dikendalikan
oleh orang lain. Berdasarkan hal tersebut, dalam pelaksanaan proses
pembelajaran guru diharapkan dapat memilih metode pembelajaran yang tepat
berdasarkan pertimbangan konstruktivisme belajar aktif dan disiplin.
DAFTAR
PUSTAKA
Ismaun.2007. Kapita
Selekta Filsafat Administrasi Pendidikan (Serahan Perkuliahan). Bandung :
UPI
Koento
Wibisono.1997. Dasar-Dasar Filsafat. Jakarta : Universitas Terbuka
Budiningsih,
C. Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : PT Rineka Cipta.
Maturana,
H.R dan F.J. Varela.1980. Autopoiesis and Cognition: The Realization
of the Living. London: D. Reidel Publishing Company.
Sudiarta,
I.G.Putu.2010. Biology of Cognition-Constructivism and Its Implication
for The NewEpistemological Concept of Learning and Teaching. www.pdfsearch.com. Diakses
tanggal 4 Mei 2011
Suparno,
Paul. 1997. Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan.
Yogyakarta : Kanisius
http://benny-metika.blogspot.com/2011/03/konstruktivisme-radikal-dan-biologi. html.
Diakses tanggal 3 Mei 2011
Diakses
tanggal 3 Mei 2011
Diakses
tanggal 3 Mei 2011 Diakses tanggal 4 Mei 2011
http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2074843-teori-konstruktivisme-dalam-pembelajaran-matematika/. Diakses
tanggal 4 Mei 2011
Diakses
tanggal 4 Mei 2011
Diakses
tanggal 4 Mei 2011
Diakses
tanggal 4 Mei 2011
http://Valmband.Multiply.Com/Journal/Item/12/Teori
Perkembangan Kognisi Jean Piaget. Diakses
tanggal 3 Mei 2011

