MAKALAH MENGKONSTRUKSI PARADIGMA DAN TUJUAN PEMBELAJARAN

by 23.39 0 komentar
MAKALAH
MENGKONSTRUKSI PARADIGMA DAN TUJUAN PEMBELAJARAN
DI AJUKAN UNTUK MEMENUHI SUATU MATA KULIYAH
STRATEGI PEMBELAJARAN

Oleh :

SUBANDI


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM RADEN QOSIM SUNAN DRAJAT
BANJARANYAR PACIRAN LAMONGAN
2013



KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt atas rahmat dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah yang berjudul Ejaan Yang Disempurnakan ini membahas mengenai seperangkat aturan tentang cara menuliskan bahasa dengan huruf, kata dan tanda baca sebagai sarananya.
Dalam penulisan makalah ini saya banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulisan makalah ini.
Saya sadar bahwa dalam makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, Hal itu di karenakan keterbatasan kemampuan dan pengetahuan saya. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita.
Akhir kata, saya memohon maaf apabila dalam penulisan makalah ini terdapat banyak kesalahan


Lamongan, 07 Juni 2013
Penulis




DAFTAR ISI
Kata pengantar                                                                                                                            
Daftar isi                                                                                                                                     
BAB I PENDAHULUAN                                                                                                         
1.1  Latar belakang                                                                                                                
1.2  Rumusan Masalah                                                                                                         
1.3  Tujuan Penulis
1.4  Manfaat Penulis                                                                                                             
BAB II PEMBAHASAN
2.1  Siswa Sebagai Pusat Pembelajaran
2.2  Kecerdasan Ganda Dan Optimalisasi Fungsi Otak
2.3  Mengatasi Masalah Disiplin
BAB III PENUTUP
3.1  Simpulan
3.2  Saran

DAFTAR PUSTAKA



a.



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Sekarang bukan jamannya lagi menganggap siswa sebagai ‘kertas putih kosong’ yang tidak tahu apa-apa sama sekali. Siswa yang hanya direcoki dengan apa yang diketahui gurunya hanya akan membentuk individu yang pasif. Pembelajaran tidak relevan lagi dianggap hanya sekedar sebagai proses transfer pengetahuan. Pembelajaran pada esensinya merupakan sutau proses konstruksi pengetahuan. Cara pandang seperti inilah yang disebut dengan konstruktivisme. Siswa hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan rangsangan dari guru. Sedangkan, guru hendaknya banyak memberikan stimulus kepada siswa agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.
Konstruktivisme memandang belajar sebagai proses dimana pebelajar secara aktif mengkonstruksi atau membangun gagasan-gagasan atau konsep-konsep baru didasarkan atas pengetahuan yang dimiliki sebelumnya atau pada saat itu. Belajar melibatkan konstruksi pengetahuan seseorang dari pengalamannya sendiri oleh dirinya sendiri. Dalam perkembangannya paham konstruktivisme telah memberikan pengaruh besar terhadap pendidikan, terutama pendidikan di Indonesia. Kegiatan pembelajaran yang sering kita istilahkan dengan student centered berawal dari paham ini.
Munculnya berbagai jenis konstruktivisme dari berbagai tokoh mengakibatkan perubahan makna konstruktivisme dari yang sebenarnya. Kenyataan ini membuat beberapa penganut konstruktivisme prihatin dan kemudian mengemukakan pandangan-pandangan mereka terhadap esensi konstrutivisme. Terdapat empat varians konstruktivisme dari beberapa tokoh yang benar-benar memahami dan sejalan dengan paham akan sejatinya konstruktivisme tersebut. Keempat varians itu adalah konstruktivisme radikal, biologi kognitif,neurophysiology, dan cybernetic. Dalam makalah ini akan dibahas paham konstruktivisme biologi kognitif yang dikemukakan oleh Maturana dan Varela. Mereka melihat konstruktivisme dari sudut pandang penelitian modern di bidang biologi dan fisiologi, dan bukan berdasarkan tradisi filosofis.



1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dikemukakan, maka dapat diajukan rumusan masalah sebagai berikut.
1)      Bagaimanakah paradigma paham konstruktivisme terhadap pembelajaran?
2)      Bagaimanakah paham  konstruktivisme dalam Pendidikan
1.3  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan yang ingin dicapai melalui penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1) Untuk mengetahui paradigma paham konstruktivisme terhadap terhadap pembelajaran.
1.4  Manfaat Penulisan
Adapun manfaat yang diharapkan melalui penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1) Bagi Penulis
Penulis dapat menambah wawasan tentang paham konstruktivisme berdasarkan biologi kognitif, terutama dalam hal pendidikan dan pembelajaran, dengan harapan dapat dijadikan acuan dalam melaksanakan pembelajaran yang lebih baik.
2) Bagi Pembaca
Pembaca dapat menambah wawasan tentang paham konstruktivisme berdasarkan biologi kognitif, terutama dalam hal pendidikan dan pembelajaran, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan proses pembelajaran di kelas maupun pada penyelenggaraan pendidikan pada umumnya.




BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Paradigma Paham Konstruktivisme terhadap Pembelajaran

Gagasan pokok konstruktivisme sebenarnya dicetuskan oleh Giambatissta Vico. Vico adalah cikal bakal dari konstruktivisme. Vico dalam De Antiquissima Italorum Sapientia yang dipublikasikan pada tahun 1710 mengungkapkan bahwa “Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaan”. Vico juga menjelaskan bahwa “mengetahui” berarti “mengetahui bagaimana membuat sesuatu”. Hal ini berarti bahwa seseorang baru mengetahui sesuatu jika dapat menjelaskan unsur-unsur yang membangun sesuatu itu. Menurut Vico, pengetahuan merupakan struktur konsep dari pengamat yang berlaku dan selalu menunjuk pada struktur konsep yang dibentuk.
Gagasan Vico kemudian disusul gagasan yang dinyatakan oleh Jean Piaget. Piaget menuliskan gagasan konstruktivisme dalam perkembangan kognitif dan juga dalam epistemologi genetik. Piaget menjelaskan mengenai teori adaptasi kognitif bahwa pengetahuan diperoleh berdasarkan adaptasi struktur kognitif terhadap lingkungan, seperti suatu organisme harus beradaptasi dengan habitatnya untuk dapat mempertahankan kehidupan.
Konstruktivisme memandang belajar sebagai proses dimana pebelajar secara aktif  mengonstruksi atau membangun gagasan-gagasan atau konsep-konsep baru didasarkan atas pengetahuan yang telah dimiliki di masa lalu atau yang ada pada saat itu. Dengan kata lain, belajar melibatkan konstruksi pengetahuan seseorang berdasarkan pengalamannya sendiri. Konstruktivisme memandang pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seseorang kepada orang lain, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing orang. Setiap orang harus mengonstruksi pengetahuan sendiri. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, tetapi suatu proses yang berkembang terus menerus.
Pembelajaran menurut konstruktivisme merupakan suatu kondisi dimana guru membantu siswa untuk membangun pengetahuan dengan kemampuan sendiri melalui konsep internalisasi sehingga pengetahuan itu dapat terkonstruksi kembali. Menurut pandangan konstruktivisme, belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan oleh si pebelajar. Pebelajar harus aktif melakukan kegiatan, aktif berpikir, menyusun konsep, dan memberi makna tentang hal-hal yang dipelajari.
Paradigma konstruktivisme memandang siswa sebagai pribadi yang sudah memiliki kemampuan awal sebelum mempelajari sesuatu. Kemampuan awal tersebut akan menjadi dasar dalam mengonstruksi pengetahuan baru. Dalam belajar, guru berperan sebagai fasilitator untuk membantu agar proses pengonstruksian pengetahuan oleh siswa berjalan lancar. Guru tidak mentransfer pengetahuan yang telah dimilikinya kepada siswa, melainkan hanya membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Guru dituntut untuk lebih memahami jalan pikiran atau cara pandang siswa dalam belajar. Guru tidak dapat mengklaim bahwa satu-satunya cara yang tepat adalah cara yang sama dan sesuai dengan kemauannya.
2.2 Konstruktivisme dalam Pendidikan
Paradigma pembelajaran dengan gagasan tentang  komunitas belajar (learning community) melihat peran penting konteks dalam pembelajaran. Menurut paradigma ini,  pembelajaran terutama merupakan  suatu usaha sosial dan tergantung pada konteks. Pembelajaran dilihat berkembang secara berbeda dalam tatanan yang berbeda dan dengan orang yang berbeda. Dalam pandangan ini, pembelajaran koperatif (cooperative learning), kurikulum yang terintegrasi, proyek-proyek komunitas dan unit-unit siswa  dan guru yang lebih kecil muncul.
Paradigma ini dipengaruhi oleh  konstruktivisme.  Gagasan konstruktivisme dapat dilihat dari pandangan Marry Catherine Bateson yang menunjukkan bahwa manusia  mengkonstruksi makna seperti laba-laba membuat jaringannya. Pembuatan makna  merupakan suatu proses yang aktif  di dalam otak manusia di mana jaringan kompleks yang menghubungkan gagasan yang satu dengan gagasan yang lain dikonstruksi dengan baik. Pemahaman tentang pembelajaran sebagai pembuatan makna dan bersifat relasional menjadi dasar pembelajaran konstruktivis. 
Teori konstruktivis  menyadari bahwa pembelajar masuk ke dalam sebuah pengalaman dengan sejarah, pengalaman, persepsi dan keyakinannya sendiri. Hal ini menimbulkan suatu interpretasi yang unik atas dunia. Pandangan pembelajaran konstruktivis seperti ini melihat fungsi mengajar sebagai fungsi untuk memediasi, dan menghubungkan pengalaman-pengalaman yang baru dengan  persepsi seseorang sebelumnya. 
Pandangan konstruktivis ini dikembangkan oleh Piaget yang melihat bahwa seorang pembelajar  menghadapi pengalaman dan peristiwa-peristiwa yang baru dan ingin mengasimilasikannya  ke dalam struktur kognitif yang ada. Piaget melihat seorang anak melangkah melalui tahapan-tahapan perkembangan sebagai seorang ilmuwan yang aktif  yang berinteraksi dengan lingkungannya dan  mengkonstruksikan teori tentang lingkungan mereka,  merefleksikan dan berjuang dengan ketidakseimbangan dan menciptakan cara berpikir yang baru.
Pandangan Piaget mendapat dimensi baru dalam karya Jerome Bruner. Dia menekankan  peran interaksi sosial, sejarah dan bahasa dalam proses pembelajaran. Pandangan yang hampir sama diungkapkan oleh Lev Vygotsky. Menurutnya, manusia mengkonstruksi  makna dan pengetahuan bersama-sama dalam konteks kultur dan sejarah mereka. Pembelajar saling berinteraksi dalam situasi belajar bersama (cooperative learning), secara terus menerus  menerima umpan balik informal  atas pikiran mereka dan dirangsang oleh perspektif orang lain dan mendengar interpretasi yang bertentangan dengan suatu ide tertentu. Ketika pembelajar membangun pengertian atas apa yang  mereka alami, hal itu disaring melalui norma-norma kultural dan pengalaman historis yang mempengaruhi kesimpulan mereka. Masing-masing interaksi seperti kelompok ide yang berbentuk spiral menantang dan membentuk pemikiran mereka selanjutnya. Vygotsky melihat bahwa pembelajaran  tampak pertama-tama dalam level sosial dan kemudian pada level individual.
Ciri Pembelajaran Konstruktivisme
Good & Brophy (dalam Kauchack & Eggen, 1998:185) menyebutkan ciri pembelajaran konstruktivisme secara umum sebagai berikut.
1.      Siswa membangun sendiri pemahamannya
2.      Belajar yang baru bergantung pada pemahaman sebelumnya
3.      Belajar difasilitasi oleh interaksi sosial
4.      Belajar yang bermakna terjadi didalam tugas-tugas belajar mandiri
Alexander & Murphy (dalam Kauchack, 1998:9) mengajukan 5 pertanyaan umum tentang belajar dan mengajar yang sejalan dengan pendapat Good & Grophy, yaitu:
1.      Pengetahuan awal siswa mempengaruhi belajarnya
2.      Siswa perlu memikirkan strategi belajarnya
3.      Motivasi berpengaruh kuat pada belajar
4.      Perkembangan dan perbedaan individual mempengaruhi belajar
5.      Kontek sosial di dalam kelas mempengaruhi belajar
Kauchack & Eggen (1998:192-193) mengemukakan bahwa pembelajaran untuk memfasilitasi konstruksi pengetahuan memuat 4 aspek penting sebagai berikut.
1.      Pembelajaran berfokus pada penjelasan dan jawaban siswa atas masalah atau pertanyaan.
2.      Penjelasan dan jawaban datang dari siswa
3.      Penjelasan dan jawaban bersumber dari representasi konsep
4.      Guru membantu siswa mengkonstruk pengetahuan dengan mengarahkan interaksi sosial dan menyediakan representasi konsep.
Dengan demikian, esensi pembelajaran dalam pandangan konstruktivisme adalah tidak terlepas dari belajar aktif dengan tujuan akhir yang bermuara pada pemecahan masalah, atau dapat dikatakan bahwa pembelajaran dalam pandangan konstruktivisme adalah pemecahan masalah; bukan hanya pemecahan masalah bagi siswa, tetapi juga memecahkan masalah guru.


BAB III
PENUTUP
3.1  Simpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut.
1      Konstruktivisme memandang belajar sebagai proses dimana pebelajar secara aktif  mengonstruksi atau membangun gagasan-gagasan atau konsep-konsep baru didasarkan atas pengetahuan yang telah dimiliki di masa lalu atau yang ada pada saat itu. Dengan kata lain, belajar melibatkan konstruksi pengetahuan seseorang berdasarkan pengalamannya sendiri.
2       Konstruktivisme memandang kecerdasan ganda dan optimalisasi fungsi otak
sebagai individu yang bersifat otonom yang mahluk hidup yang mampu meregulasi dirinya tanpa ada campur tangan dari orang lain.
3      Pembelajaran menurut pandangan konstruktivis Mengatasi Masalah Disiplin
 adalah suatu proses pembentukan pengetahuan melalui pengalaman-pengalaman yang diperoleh siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung karena siswa dalam proses pembelajaran bersifatautonom yang tidak dapat diatur atau dikendalikan oleh guru. Dalam proses pembelajaran guru berperan sebagai fasilitator yang dapat membantu dan mengarahkan siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya sehingga kegiatan pembelajaran berlangsung secara efektif dan menjadi pembelajaran bermakna.

3.2  Saran
Siswa sebagai individu yang bersifat tertutup, autonom, dan self-regulated tidak dapat diatur atau dikendalikan oleh orang lain. Berdasarkan hal tersebut, dalam pelaksanaan proses pembelajaran guru diharapkan dapat memilih metode pembelajaran yang tepat berdasarkan pertimbangan konstruktivisme belajar aktif dan disiplin.






DAFTAR PUSTAKA

Ismaun.2007. Kapita Selekta Filsafat Administrasi Pendidikan (Serahan Perkuliahan). Bandung : UPI
Koento Wibisono.1997. Dasar-Dasar Filsafat. Jakarta : Universitas Terbuka
Budiningsih, C. Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : PT Rineka Cipta.
Maturana, H.R dan F.J. Varela.1980. Autopoiesis and Cognition: The Realization of the Living. London: D. Reidel Publishing Company.
Sudiarta, I.G.Putu.2010. Biology of Cognition-Constructivism and Its Implication for The NewEpistemological Concept of Learning and Teachingwww.pdfsearch.com. Diakses tanggal 4 Mei 2011
Suparno, Paul. 1997. Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan.  Yogyakarta : Kanisius
Diakses tanggal 3 Mei 2011
Diakses tanggal 3 Mei 2011 Diakses tanggal 4 Mei 2011
Diakses tanggal 4 Mei 2011
Diakses tanggal 4 Mei 2011
Diakses tanggal 4 Mei 2011


Unknown

Developer

wahai pemuda ! jika kamu tidak tahan menghadapi susahnya belajar, kelak kamu menyesal menanggung betapa beratnya kebodohan (pythagoras)

Comments
0 Comments

0 komentar: